Saatnya Nelayan Berdikari, Inisiasi Koperasi sambil Asik Ngopi

09 Oktober 2019

Nelayan selalu dekat dengan laut. Jiwanya bebas berlayar dalam ikhtiar dan sabar. Menjemput nafkah mengarungi Samudra juang, berdiskusi dengan angin dan bercengkrama dengan ombak. Nyawa memang jadi taruhan, tapi Tuhan bilang inilah jalan perjuangan seorang nelayan.

Tim ICD (Indonesian Community Development) Sekolah Relawan seolah tak ada hentinya berpetulang dalam pelayaran kisah bangkitnya para nelayan. Pasca Tsunami Palu, Tuhan kembali mempertemukan kami dengan bapak-bapak nelayan Ujung kulon yang terdampak Tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu.

Sebuah kemegahan rasa yang kami dapatkan dari seorang nelayan: Jiwanya bebas seperti laut lepas, perasaan sulit diterka seperti cuaca, keberaniannya Tangguh seperti karang utuh.

Jika nelayan Palu dan Donggala mulai bangkit berbenah kembali mengarungi lautan, maka nelayan Selat Sunda di Desa Tamanjaya pun melakukan ikhtiar kolektif bersama. Inisiasi koperasi nelayan Ujung Kulon mengisi langkah-langkah perjuangan para nelayan untuk membangun kemandirian dan kekuatan kelompoknya.

Tak hanya belajar menabung dan mengatur keuangan, para nelayan pun belajar melingkar membangun komitmen positif pada ruang belajar bersama yang mereka sebut koperasi nelayan.

Pada proses perintisan koperasi ini, bukan hanya para nelayan yang belajar, tapi juga para relawan dan fasilitator.

Tak hanya percakapan di pinggir pantai, forum melingkar di rumah ketua nelayan pun jadi ruang diskusi asik sambal menikmati kopi dan cemilan.

Para nelayan bisa dengan bebasnya mengutarakan pertanyaan, permasalahan hingga mimpi-mimpi sederhana mereka soal keluarga dan kehidupan.

Pendirian koperasi nelayan adalah awal baru dari sebuah pembelajaran dan perjuangan kolektif yang lebih terorganisir. Dengan kolaborasi terbuka yang aktif dan positif Tim ICD Sekolah Relawan berkomitmen untuk membersamai proses tersebut secara partisipatif, tumbuh Bersama, mengambil peran dan jadi bagian dari lingkaran pergerakan.