Naik Turun Bukit Sampai Tinggal di UKS, Perjuangan Pak Arta Menjadi Pelita Ilmu Bagi Masa Depan Bangsa

2 Maret 2020

icd.or.id, Cianjur (2/3/2020)- Ada seribu macam bentuk cara yang bisa kita lakukan untuk menjadi seorang pahlawan, walaupun bukan untuk mendapatkan sebuah kemerdekaan bagi bangsa, tetapi kita bisa memberikan sebuah "kemerdekaan" pada orang yang membutuhkan. Yaitu dalam bentuk jasa yang tulus dan penuh keiklahsan.

Seperti yang dilakukan oleh Pak Arta (54 tahun) yang merupakan seorang pahlawan dalam dunia pendidikan. Lelaki setengah abad ini tinggal jauh dari gemerlap perkotaan, di sudut ruangan sempit Pak Arta tinggal di sekolah, beliau mengatakan.

""saya tinggal di pilla, nyempil ti sakola"

sambil tertawa menghibur diri, Setiap pagi hari membersihkan sekolah, merawat bantuan sekolah yang terletak di Desa Batu Lawang, Kec. Cipanas, Kab. Cianjur.

Sudah 20 tahun lebih Pak Arta berdedikasi sebagai guru honorer, meski kini sudah tidak muda lagi tetapi ia masih sehat, kuat dan penuh semangat untuk mengajar, dari murid SD hingga SMK serta PKBM.

Berkat jasa pengabdian pak Arta dan ilmu yang beliau ajarkan, sekarang banyak anak didiknya yang telah sukses menggapai mimpinya.

Namun di balik dedikasinya sebagai pahlawan pendidikan, ada perjuangan berat yang harus di lalui oleh Pak Arta.

Kebaikan dan luapan semangatnya ternyata membuat orang lupa kepada kehidupannya. Ia harus rela berjalan sejauh 12 km dari sekolah ke sekolah setiap harinya, ia juga harus melalui jalan yang menanjak dan rusak serta penerangan yang minim pada malam hari sudah menjadi suasana akrab menemani Pak Arta menuju pulang ke rumah.

Ia lakukan semua ini untuk mengajar murid-muridnya dan berupaya memenuhi kebutuhan hidupnya meski yang ia dapat tidak seberapa.

walaupun sesekali akan dipinjamkan motor, namun Pak Arta tetap memilih berjalan kaki sebab ia khawatir akan merusak motor yang bukan barang miliknya, bahkan jika ia harus keluar malam dan jauh seperti menyelawat orang tua muridnya yang meninggal saat malam hari

Tak selesai pada permasalahan jarak tempuh dan kondisi jalan, statusnya sebagai guru honor selama 20 tahun juga membuat kehidupannya tak membaik.

Apalagi dengan menurunnya honor sejak tahun 2016, banyaknya tunjangan yang dihapuskan, kurang lebih hanya 450 ribu/bulan hak untuk guru honorer.

Namun di usia senjanya, ia masih memiliki semangat untuk menguliahkan anak semata wayangnya walaupun harus meminjam uang pada kerabatnya yang ia cicil setiap bulan dengan pendapatan pas-pasan.

Di balik sosok Pak Arta saat ini, ia memiliki prinsip hidup yang mampu membuat ia menjadi sosok yang luar biasa, tampil menjadi guru yang baik, rapih dan disiplin seperti layaknya guru di kota.

Sepatu yang selalu kotor di jalan selalu ia bersihkan sampai sekolah, seperti baru dicuci. Meski harus menempul jalan ribuan meter, ia memilih untuk tak melipat kakinya di angkutan umum, karena uangnya bisa ia gunakan untuk membiayai sekolah anak semata wayangnya.

Ini cerita tentang perjuangan Pak Arta, seorang guru honorer di Cianjur yang telah berjuang selama 20 tahun mengajar naik turun bukit, untuk menyampaikan ilmu dan menerangkan masa depan anak-anak bangsa.